Lagu Nasionalis dan Lagu Anak

Juni 07, 2017 Add Comment
Kerap kali anak-anak menyanyikan lagu-lagu yang tidak cocok dengan usia mereka. Kali ini kami bagikan beberapa lagu yang bersifat nasionalis dan lagu anak yang aman untuk dinyanyikan oleh anak-anak.
lagu anak

1. Coklat - Bendera  
Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi s’lalu ku coba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi s’lalu ku coba tuk melindungimu 
 
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi s’lalu ku coba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi s’lalu ku coba tuk mengindahkanmu 
 
Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi tumpah darah
Semua pahlawan-pahlawanku 
 
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Ku kan selalu menjagamu  
 
2. Sherina – Andai Aku Besar Nanti (Wajib)  
 
Andai aku t’lah dewasa
Apa yang kan ku katakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah… oh… oh…
Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu
Bunda… pelitaku
Penerang jiwaku dalam setiap waktu 
 
O… O… Ku tahu kau berharap
Dalam do’amu Ku tahu kau berjaga
Dalam langkahku Ku tahu s’lalu cinta
Dalam senyummu Oh Oh Tuhan Kau kupinta…
Bahagiakan mereka sepertiku 
 
Andai aku t’lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s’lalu ku cinta….. 
 
 
3. Sherina - Balon Udaraku  
 
Langit biru
Awan putih
Terbentang indah
Lukisan yang kuasa
 
Ku melayang
Diudara
Terbang dengan balon udaraku
 
Oh sungguh senangnya lintasi bumi
Oh indahnya dunia

Bola Kristal Part 1

Juni 07, 2017 Add Comment
Dahulu kala, ada seorang wanita penyihir yang memiliki tiga anak yang saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya sebagai saudara, tetapi wanita penyihir tua itu tidak mempercayai anaknya sendiri, dan berpikir bahwa ketiga anaknya ingin mencuri kekuatannya darinya. Penyihir itu lalu mengubah anak sulungnya menjadi burung elang, yang terpaksa tinggal di pegunungan berbatu, dan sering terlihat terbang melayang di langit. Yang kedua, disihir sehingga berubah menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam, dan terkadang terlihat di permukaan laut menyemburkan sebuah pancuran air yang besar di udara. Kedua anak ini masing-masing masih bisa berubah bentuk menjadi manusia selama dua jam setiap hari. Anak yang ketiga, karena takut bahwa ibunya yang penyihir ini akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas, dengan diam-diam pergi meninggalkan ibunya. 
bola kristal
Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari, sedang menanti datangnya pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri, mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri, tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang mencoba tetapi gagal, dan sekarang tidak ada orang yang berani untuk menyelamatkan sang Putri lagi. 
 
Si Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana matahari itu dalam waktu yang cukup lama tanpa bisa menemukannya. Suatu ketika, dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar, dan menjadi tersesat. Tiba-tiba dia melihat di kejauhan, dua raksasa yang melambaikan tangan mereka kepadanya, dan ketika dia datang kepada raksasa tersebut, mereka berkata, 
 
"Kami bertengkar mengenai sebuah topi, siapa di antara kami yang berhak memilikinya, karena kami berdua sama kuatnya, tak ada satupun di antara kami yang lebih kuat dibandingkan yang lain. Manusia kecil lebih pandai dari kami, karena itu, kami menyerahkan keputusan kepada mu." 
"Bagaimana kamu bisa bertengkar hanya karena sebuah topi tua?" kata si Putra Ketiga. 
"Kamu tidak mengerti keajaiban topi itu! Itu adalah topi yang bisa mengabulkan keinginan kita; barang siapa yang memakainya, dan berharap untuk pergi ke tempat manapun dia mau, dalam sekejap dia akan tiba di tempat tersebut." 
"Berikanlah topi itu kepadaku," kata si Putra Ketiga, "Saya akan berdiri di sana, ketika saya memanggil kalian, kalian harus berlomba lari, dan topi ini akan menjadi milik orang yang lebih duluan tiba di sana." Dia lalu memakai topi tersebut lalu berjalan pergi, dan saat berjalan, si Putra Ketiga berpikir tentang sang Putri, melupakan para raksasa dan berjalan terus. Akhirnya dia mendesah dalam hatinya dan bersedih, "Ah, jika saja saya bisa tiba di istana matahari," tiba-tiba si Putra Ketiga sudah berdiri di sebuah gunung yang tinggi tepat di depan pintu gerbang istana matahari.
 
Bersambung ...